Halaman

Tampilkan postingan dengan label JaySeong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JaySeong. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 April 2022

I Can't Tell You How Selfish I am

 Ada satu hal yang paling kutakutkan, yang tidak bisa kusampaikan kepadamu. Mom menyadarinya. Siang itu, Mom duduk di sampingku di kasur rumah sakit yang sempit. Mom merangkul tubuhku dengan hati-hati karena takut menyakitiku. Dia mengusap kepalaku yang botak dengan lembut, menarikku hingga bersandar pada ceruk lehernya.

"Jangan takut ... he will never forget you," bisiknya. "Don't you know by now how much he is into you?"

Aku melirik ke arahnya dan bertanya, "Mom, how do you know?" Bukan tentang tahu mengenai kamu yang tidak akan melupakan aku, tapi tentang ketakutan yang mengusik perasaanku akhir-akhir ini.

"I'm your mom ... of course I know," jawabnya sambil mengecup keningku.

"But I feel selfish ... aku ngerasa keinginanku ini jahat. I should wish him happiness, shouldn't I?"

"Yes, you should. He deserves to be happy."

"Tapi ... membayangkan dia mencintai orang lain terlalu sulit buatku," ujarku sambil meremas dada yang terasa sakit hanya dengan memikirkan kemungkinan itu. "I ... I want him to only love me. I'm hoping there will be no one else after me."

"And that's not selfish, baby. You love him so much, that's why. Bahagia tidak selalu karena ada orang lain untuk dicintai. Bagi Mom, kamu nggak ada gantinya. Mom yakin bagi Yiseong pun sama. You have to believe in him."

Mendengar itu, aku pun merasa lebih tenang.

I believe in you, Yiseong.

Kamis, 31 Maret 2022

18 Agustus 2021 - A New Bucket List

 “Aku mau bikin bucket list baru —”

— adalah hal pertama yang diucapkan Kwon Eunjae saat terbangun pagi tadi, membuat Hwang Yiseong yang sedang membangunkannya terheran-heran.

“Kamu mimpi apa barusan, Sayang?” tanya Yiseong seraya mengusap helai rambut Eunjae yang menutupi matanya. “Bangun-bangun langsung mikirin bucket list.”

Eunjae tidak langsung menjawab, pemuda itu hanya menatap kekasihnya dan mengguratkan senyum segaris yang lantas disambut dengan tusukan ujung-ujung jari Yiseong pada sepasang ceruk di pipinya.

“Aku memikirkannya semalam sampai ketiduran,” jawabnya kemudian sambil merentangkan tangan dan kakinya yang panjang untuk memeluk seluruh tubuh Yiseong. “Daftar milikku hampir semuanya sudah dilakukan, jadi aku mau menambahkannya.” Diadunya ujung hidung ke milik kekasihnya, berlanjut dengan sepasang bibir yang saling menemukan. “Tapi kali ini nggak mau masukin yang ada hubungannya dengan bagaimana aku ingin pergi. Aku mau yang bikin bahagia saja."

Mereka pun beranjak dari tempat tidur, mandi, sarapan dengan cepat, lalu duduk bersebelahan di meja makan dengan selembar kertas di meja dan pena di tangan kanan Eunjae.

28 Mei 2021

"Tidak bisa, Dok?" tanya Kwon Eunjae penuh harap, yang disambut dengan gelengan sang pria paruh baya sambil melepas kacamata dan mengelapnya.

"Diagnosis saya sama persis seperti dokter-dokter sebelum ini. Tubuhmu terlalu lemah untuk menerima terapi-terapi yang berat."

"Sekalipun saya sendiri yang menginginkannya?" desak Kwon Eunjae hingga Hwang Yiseong meletakkan tangan di pundaknya supaya ia tidak mencondongkan tubuh terlalu dekat pada dokter Byun. "Saya bisa. Saya mau berjuang, Dok. Saya bisa tahan sakitnya. Saya tidak mau menyerah begitu saja tanpa perlawanan sama sekali. Dokter, saya mau sembuh."

"Saran saya, lanjutkan saja pengobatan yang selama ini sudah berjalan," ujar sang dokter dengan tenang. "Jangan stres. Nikmati hidup se—"

Gebrakan di meja menghentikan kalimat dokter itu. Cukup sudah ia mendengar hal yang sama. Kwon Eunjae berdiri, dan meninggalkan ruangan. Tak lama kemudian, Yiseong segera menyusul di belakangnya sambil mendorong kursi roda yang tadi Eunjae lupakan begitu saja.

Just a Little Prayer Every Morning

Kwon Eunjae bukan seorang pemuda religius. Ia hanya tahu siapa Tuhannya, itu saja. Ia bukan jenis orang yang rutin berdoa setiap pagi dan malam, atau ingat berterima kasih ketika hal baik mendatanginya.

Namun, kini berbeda. Setiap malam sebelum tidur, Kwon Eunjae akan memejamkan mata dan memohon. Agar ia masih diberi kesempatan untuk terbangun lagi esok pagi. Lalu, jika doanya dikabulkan, ia akan mengucap syukur di pagi hari.

"Terima kasih, Tuhan. Kau masih memberiku kesempatan menatap wajahnya yang tidur lelap pagi ini."

29 Maret 2021

Kwon Eunjae bisa merasakan tatapan Hwang Yiseong yang terus mengarah ke punggungnya ketika ia tengah mengambil posisi di depan cermin lebar ruang latihan. Pemuda itu sengaja memunggungi kekasihnya karena tatapan itu membuatnya merasa campur-aduk. Rasa bersalah, sedih, serta marah tengah mengaduk-aduk batinnya. Ia putus asa. Ia merasa bodoh karena telah menaruh harapan yang ia tahu sesungguhnya tidak ada.

Pagi tadi, mereka berdua kembali ke Gangnam Severance Hospital untuk mengambil hasil tes medis yang dilakukannya tanggal 25 lalu. Ide memeriksakan diri pada dokter baru yang katanya lebih mumpuni membuatnya mengiyakan tawaran itu. Ia ingin sembuh, siapa yang tidak? Apalagi setelah belakangan penyakitnya semakin terasa mengganggu, ia sungguh-sungguh ingin sembuh.

On This Special Day

 17 Desember 2020



Everybody has a birthday every year. Really.

But to celebrate it together, you and I,

This might be the only year we could.




***


Malam sebelumnya, tanggal 16, Kwon Eunjae dengan tubuh gemetar kedinginan meringkuk dalam dekap hangat Yoon Baekhwan di balik selimut. Dingin menusuk tulang yang kerap disajikan Desember makin menyulitkannya untuk jatuh dalam lelap. Selain itu, sesuatu tengah membuat Jay gelisah. Pada sosok yang telah dianggapnya sebagai kakak itulah, pemuda Kwon mengungkapkan keinginannya mencipta memori yang bisa bertahan selamanya pada hari Hwang Yiseong resmi memasuki era kedewasaan. Ia meminta saran dari yang lebih tua karena ini kali pertama Kwon Eunjae jatuh cinta. Pada akhirnya, pemuda jatuh terlelap dengan jemari Baekhwan mengusap lembut helaian keemasannya.

Kwon Eunjae's Diary

 I'M PAINTING GOOD MEMORIES

i'm doing my best. i will not complain.

so please, don't you forget me

when i'm gone.

— jay kwon


★


THE BUCKET LIST


to survive hatch7 or at least until the final stage ✔

to fall in love ✔

first kiss? ✔

to have s** ✔

a date at jeju island. i wish to go with him ✔

bungee jumping (clearly just impossible but who knows?) ✔

pokemon plushies for sunny ✔

to read all rick riordan's books

to die without regrets, but i wish to live as long as i could

to spend my last day with my family and yiseong

i want to see aurora borealis with yiseong

Jumat, 25 Maret 2022

Tell Me, Why Me


Gulita tak hanya menguasai langit malam. Pekatnya tengah merayap dengan kuku-kuku nan tajam menghunjam dalam-dalam pada jiwa rapuh seorang adam. Ia berjalan tertatih-tatih, seolah tenaga yang tersisa pada sepasang tungkai kurus itu tidak lagi kuat menopang tubuh ringkih terbungkus hoodie hitam tebal yang tampak kedodoran untuknya. Kepalanya tertunduk, tertutupi bayang-bayang kerudung. Apabila kau mengamati baik-baik, bulir-bulir kristal bening tiada henti berjatuhan seolah kelopak matanya merupa awan hujan.

Sang adam tak berencana untuk segera pulang menyambut ranjang serta selimut hangat kendati dingin tengah menggerayangi tubuh dengan brutal. Langkah-langkah serampangan membawanya pada sebuah ayunan usang di tengah hampar taman yang dedaunannya sibuk meranggas. Duduk di sana ia mendampratkan segenap lelah. Erang lolos bagai lolong serigala jantan mengusik sunyi dalam gelap. Adam meraung keras, menjerit sekuat tenaga, peduli setan jika ada yang mendengar. Sepuluh jari tangannya bergerak-gerak bagai kerasukan, mengacak rambut hitam bak jelaga hingga awut-awutan.

"Why me?"

Gerak sang adam lambat kala mengangkat kepala menghadap ke takhta Tuhan di balik tiang langit, mengiba jawaban demi asa yang nyaris lesap.

"Why me, God? Please tell me, why me?"

Sang adam bertanya kepada Tuhannya, apakah belum cukup hukuman atas dosa kesombongannya di masa lampau? Apakah belum cukup ia diluluhlantakkan dengan hancurnya pusat kepongahannya? Ia yang dulu merasa lebih tinggi dari siapa pun telah runtuh — rata dengan tanah.

Ia tenggelam dalam abu-abu paling gelap. Terlalu besarkah dosanya hingga Tuhan tega menyusupkan iblis terbengis yang menggerogoti sel darah sang adam saat kesempatan kedua tengah digenggam?

Namun, jawaban yang ia dapat adalah hujan yang turun teramat deras — menghantam tubuh ringkihnya tanpa ampun bak tamparan keras yang menusuk-nusuk laiknya jarum. Bulir kristal bening dari kelopak matanya meluruh lenyap.

"Why me? I didn't even know. Why do You left me all alone?"

Sayang, tak peduli berapa lama pun sang adam menunggu, hingga hujan berhenti dan gulita bergulir pergi, jawaban itu tak lantas datang untuknya.



Belum waktuNya.

Jumat, 14 Januari 2022

Dimples

 This is ridiculous.

Yiseong thinks to himself. He doesn't like the way his heart is behaving right now. Also, how his eyes can't stop staring, because he just saw Kwon Eunjae in front of him. Standing, by himself, right on the edge of The Great Lake.

This is ridiculous, but maybe this is his only chance. Eunjae is alone, he's only surrounded by the breeze and peaceful chirps or passing-by birds and whatnot—no one else on sight; not his Prefect partners, his study group members, nor a bunch of jocks-wanna-be first graders who trail him around like some detachable mini shadows.

Maybe, just maybe, he can grow a pair and try to talk to him this time.

So Yiseong gathers his courage and makes a step forward. Or maybe two. Now two becomes five and Yiseong is a little bit panicking because he suddenly forgets how to stop his feet from moving, and this is bad /bad/ because he never felt any slightest kind of panicky feeling before.

Before he regains his composure, the Gryffindor Prefect turns his head toward him. His shuffled heels must have made some noises on the dewy grass—but there is no going back now.


"Oh," Yiseong mutters, unable to school his face back to his nonchalant expression. "I—"

"Yiseong Hwang?"

He totaly did not expect the tall guy to know his name like that, but the immediate silence is deafening.


"Right?" A smile followed, a kind of curve that will be etched in his mind for 2 weeks long—because Yiseong can see his dimples now and he thinks that looks nice and he wants to see it everyday now.


-------------

Beautiful drabble about Hwang Yiseong and Kwon Eunjae written by Inazhni Risti.

Selasa, 07 Desember 2021

From Me To You

 


Prompt: Life is made of small moments like this.

Characters: JaySeong (Kwon Eunjae & Hwang Yiseong)

Ditulis sebagai hadiah dan ucapan syukur atas hari jadi JaySeong yang pertama pada tanggal 8 Desember 2021. Terima kasih karena telah memberitahuku seperti apa rasanya dicintai, dan bagaimana caranya mencintai.

 

 ***

           

            Dear Yiseong,

 

Apa kabarmu hari ini?

Saat kamu masih terlelap, aku sudah terbangun. Kuhabiskan waktu dengan berbaring miring di tempat tidur sambil mengamati wajah pulasmu yang merupa pangeran tanpa dosa. Sempurna pada setiap sudut dan lekuk seakan Tuhan menghabiskan lebih waktu hanya untuk menciptakan sosokmu. Kamu tampak begitu damai, hingga aku tak tega membangunkanmu meski aku sangat ingin mendaratkan kecup lembut pada ujung hidung mancungmu, juga pada bibirmu.

Profesi sebagai figur publik membuat hidup kita kerap diisi oleh momen-momen besar. Menyanyi dan menari di panggung, bertemu banyak orang pada acara jumpa penggemar, berhadapan dengan kamera, diwawancara aneka media, hingga menjadi nominasi penerima penghargaan musik di akhir tahun. Tiap langkah kita tidak pernah lepas dari lampu sorot tak kasatmata nyaris dua puluh empat jam penuh, setiap hari. Ucapan dan tindak tanduk kita diawasi begitu rupa, hingga cela setitik saja akan merusak siapa kita di mata orang-orang. Mereka ingin tahu segala hal tentang kita, sampai yang tidak penting sekalipun.

Bukan aku tidak bersyukur. Namun saat ini, pada momen kecil ini… saat hanya ada kita berdua, aku memahami bahwa dibandingkan momen-momen besar di mana nama kita dielukan, momen kecil seperti ini lah yang justru membentuk kehidupan kita menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti.

Di momen-momen kecil ini, kamu adalah milikku seorang. Yiseong yang tidak mengenakan topeng tanpa cacat. Yiseong yang apa adanya dengan rambut berantakan setelah berjam-jam bergesekan dengan bantal, yang sesekali mengigau, yang terkadang tanpa sadar melelehkan liur di sudut bibir seperti anak kecil. Yiseong yang tanpa perlu banyak berusaha bisa membuat seorang Kwon Eunjae melengkungkan senyum karena ada percik bahagia yang meletup dalam hatinya.

Satu tahun bersamamu, aku merasakan cinta yang kupunya untukmu semakin besar dari hari ke hari. Sungguh, aku tak sabar menanti momen-momen kecil lainnya yang akan kubagi bersamamu di tahun-tahun mendatang.

 

 

With Love,


Jay